Jika dirawat dengan data, pendampingan, dan jaringan distribusi yang baik, urban farming tidak hanya menjadi respons sesaat terhadap mahalnya cabai, melainkan kebiasaan produktif yang memperkuat daya tahan kota.

Surabaya (ANTARA) - Cabai sering menempati ruang kecil dalam daftar belanja, tetapi gejolak harganya dapat mengubah perhitungan dapur keluarga.

Bagi sebagian rumah tangga, kenaikan beberapa ribu rupiah per kilogram terasa nyata karena cabai menjadi pelengkap yang hampir selalu hadir dalam masakan. Bagi pemerintah, komoditas ini juga memiliki arti lebih luas karena pergerakan harganya ikut memengaruhi inflasi pangan.

Menjelang akhir 2026, kewaspadaan terhadap gejolak harga cabai bukan tanpa alasan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada pekan keempat Oktober harga cabai merah meningkat 23,47 persen dibandingkan September 2026, sedangkan cabai rawit naik 12,49 persen.

Khusus cabai rawit, kenaikan harga dibandingkan Desember 2025 telah mencapai 29,71 persen. Harga rata-rata nasional tercatat Rp88.642 per kilogram, jauh di atas batas atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram. Kenaikan harga cabai merah terjadi di 327 kabupaten/kota, sedangkan cabai rawit di 269 kabupaten/kota.

Di Jawa Timur, tekanan harga tersebut tercermin dalam inflasi bulanan Oktober 2026 sebesar 0,07 persen dan inflasi tahunan 3,09 persen. BPS Jawa Timur mencatat cabai merah memberikan andil 0,05 persen terhadap inflasi bulanan, sedangkan cabai rawit menyumbang 0,02 persen. Keduanya menjadi komoditas pendorong inflasi bersama tomat, labu siam, dan ikan bandeng.

Persoalan produksi juga berkaitan dengan kondisi cuaca. BPS Jawa Timur mencatat sebagian besar wilayah provinsi tersebut belum memasuki musim hujan hingga Oktober 2026. Keterbatasan air dan kondisi cuaca yang kurang mendukung menyebabkan kerusakan tanaman, penurunan hasil panen, serta terbatasnya pasokan di pasar.

Secara nasional, BMKG memprakirakan awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran di 529 zona musim atau mencakup 61,08 persen luas daratan Indonesia. Sementara itu, Bapanas mengingatkan bahwa permintaan cabai cenderung meningkat menjelang akhir tahun.

Meskipun pasokan nasional diperkirakan mencukupi, kelancaran distribusi dari sentra produksi ke wilayah konsumen tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga.

Baca juga: DKPP Surabaya sebut kenaikan harga cabai rawit dipicu kondisi cuaca

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Abdul Hakim

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira