Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan potensi pemanfaatan limbah kelapa sawit menjadi biogas yang dapat dikonversi menjadi energi listrik hingga 3,9 gigawatt (GW).

Ia menjelaskan potensi tersebut berasal dari pemanfaatan limbah cair pengolahan kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) serta tandan kosong kelapa sawit. Pemanfaatan limbah tersebut dinilai dapat menjadi salah satu alternatif sumber energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari emisi gas metana.

"Kalau kita lihat potensi dari POME, potensi dari tandan kosong sawit, total itu bisa mencapai kurang lebih, kalau dikonversi menjadi listrik, sekitar 3,9 gigawatt. Ini jumlah yang lumayan dari limbah untuk bisa menghasilkan energi alternatif," kata Arif di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.

Arif menyampaikan potensi energi dari limbah sawit tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai salah satu peluang pengembangan energi alternatif di Indonesia.

Baca juga: BRIN laporkan perkembangan riset di berbagai bidang kepada Prabowo

Lebih lanjut, ia mengatakan Indonesia menghasilkan sekitar 328,43 juta ton tandan buah segar (TBS) kelapa sawit per tahun. Dari aktivitas pengolahan sawit tersebut, terdapat potensi limbah cair POME yang diperkirakan mencapai 229,9 juta meter kubik per tahun.

Menurut dia, pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas penting dilakukan karena POME berpotensi menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca apabila tidak dikelola dengan baik.

Oleh karena itu, BRIN mendorong pengembangan teknologi yang tidak hanya mampu mengolah limbah sawit menjadi biogas, tetapi juga memungkinkan gas tersebut disimpan dan dimanfaatkan dalam bentuk tabung.

Baca juga: Presiden minta BRIN dukung penyelesaian isu sampah di tingkat desa

BRIN telah memperkenalkan teknologi Metal-Organic Framework (MOF), yakni material yang berpotensi menyimpan gas dalam jumlah lebih besar. Teknologi tersebut diharapkan dapat mendukung pemanfaatan biogas sebagai sumber energi yang lebih mudah disimpan dan digunakan.

"Yang penting lagi adalah bagaimana itu bisa dikonversi menjadi tabung gas. Jadi, kami tadi sudah menyampaikan, mengenalkan teknologi baru Metal-Organic Framework atau MOF, material yang bisa menyimpan gas dalam jumlah yang lebih besar lagi," terangnya.

Arif menilai pengembangan teknologi tersebut berpotensi mendukung upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.

Ia menyebut nilai impor LPG yang mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun sebagai salah satu alasan perlunya pengembangan sumber energi alternatif berbasis potensi domestik.

"Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun, dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan," imbuhnya.

Baca juga: BRIN ungkap Indonesia berpeluang jadi produsen biogas sawit dunia

Baca juga: BRIN gandeng swasta kembangkan kimia organik, kurangi limbah sawit

Baca juga: Kemdiktisaintek dan Pertamina kembangkan bioetanol dari tandan sawit

Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: La Ode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Maria Cicilia Galuh Prayudhia

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira