Bandung, Jawa Barat (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan sepanjang Oktober 2026, Provinsi Jawa Barat mencatatkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,2 persen, yang dipicu komoditas cabai dan tomat.

Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Jabar, Senin, mengatakan untuk tingkat inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd) berada di level 2,31 persen, dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,90 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,69.

Secara spasial, lanjut Ari, pemantauan IHK di 10 kabupaten/kota menunjukkan bahwa inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Cirebon sebesar 3,02 persen (IHK 110,89), sedangkan inflasi tahunan terendah tercatat di Kabupaten Majalengka sebesar 2,62 persen (IHK 112,61).

Untuk basis bulanan (mtm), inflasi tertinggi dialami Kota Bogor sebesar 0,35 persen dan Kota Bandung mencatatkan inflasi terendah di angka 0,08 persen.

Ari menjelaskan bahwa meskipun mengalami sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya, capaian ini masih berada dalam rentang sasaran target yang terkendali.

"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada bulan ini, yakni sebesar 0,12 persen dengan inflasi kelompok mencapai 0,41 persen," katanya.

Lonjakan harga pada kelompok tersebut didominasi oleh komoditas cabai rawit, cabai merah, dan tomat.

"Kenaikan harga cabai dan tomat ini dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat dampak musim kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura," ucap dia.

Kendati demikian, menurut Ari, laju inflasi secara keseluruhan berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga.

"Di sisi lain, laju inflasi diredam oleh penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras akibat pasokan yang melimpah, serta emas perhiasan yang mengekor tren penurunan harga emas di pasar global. Sementara, harga beras yang sempat menjadi momok inflasi dalam beberapa bulan sebelumnya, kini mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026," kata Ari.

Secara rinci, Ari menyebutkan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,23 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,45 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,37 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,27 persen.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Barat, diharapkan oleh BPS Jabar, untuk terus siaga mengantisipasi potensi lonjakan permintaan menjelang libur akhir tahun, khususnya guna meredam tekanan harga hortikultura di tengah masa transisi musim.

Baca juga: Naiknya harga komoditas pangan dongkrak kesejahteraan petani Jabar

Baca juga: Melimpahnya bawang-tomat tahan inflasi Jabar Agustus 2026 0,21 persen

Baca juga: Inflasi Jabar 0,23 persen dipicu komoditas cabai rawit dan beras

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ricky Prayoga

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira