Alhamdulillah, salah satu warisan dokumenter kita akhirnya bisa diregister sebagai warisan budaya dunia untuk Asia Pasifik, yaitu Bo' Sangaji

Bima (ANTARA) -

Jauh sebelum dunia mengenal letusan Gunung Tambora sebagai salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah, masyarakat Kesultanan Bima telah merekam jejak bencana tersebut dalam sebuah manuskrip kuno.

Catatan itu tidak hanya menyimpan ingatan tentang letusan pada 1815, tetapi juga merekam kehidupan, pemikiran, dan tata kelola sebuah peradaban di Pulau Sumbawa.

Manuskrip itu bernama Bo' Sangaji Kai. Kini, naskah warisan Kerajaan dan Kesultanan Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersebut mendapat pengakuan internasional setelah ditetapkan dalam Memory of the World Register for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO pada 5 November 2026.

Pengakuan tersebut bukan sekadar penghargaan terhadap sebuah dokumen berusia ratusan tahun. Lebih dari itu, Bo' Sangaji Kai menghadirkan perspektif masyarakat lokal tentang sejarah dunia, sekaligus memperlihatkan bahwa Bima memiliki tradisi literasi dan pengetahuan yang berkembang jauh sebelum zaman modern.

"Alhamdulillah, harapan dan mimpi Bo' Sangaji Kai mendapatkan MoW UNESCO akhirnya terwujud," kata Kepala Museum Samparaja Bima, Dr. Dewi Ratna Muchlisa, yang merupakan keturunan Sultan Bima XIV Muhammad Salahuddin, Minggu.

Bagi Dewi, pengakuan itu membuktikan bahwa leluhur masyarakat Bima telah memiliki pemikiran dan pengetahuan yang maju. Berbagai aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, hukum, perdagangan, hubungan sosial, hingga perlindungan perempuan, terekam dalam manuskrip yang diwariskan lintas generasi tersebut.

Baca juga: UNESCO akui naskah kronik letusan Gunung Tambora milik Kesultanan Bima

Membaca Ingatan dari Masa Lalu

Bo' Sangaji Kai berasal dari dua kata dalam bahasa Bima. Bo' berarti buku, sedangkan Sangaji Kai merupakan gelar bagi Raja Bima sebelum kerajaan tersebut berubah menjadi kesultanan. Dengan demikian, Bo' Sangaji Kai dapat dimaknai sebagai kitab catatan kerajaan dan Kesultanan Bima.

Tradisi pencatatan sejarah tersebut awalnya menggunakan daun lontar dengan bahasa dan aksara Bima (Mbojo). Pada masa Sultan Abil Khair Sirajuddin yang memerintah pada 1645, tradisi penulisan kemudian menggunakan bahasa Melayu dengan aksara Arab.

Manuskrip tersebut merekam berbagai peristiwa sejak abad ke-17 hingga abad ke-19. Salah satu catatan pentingnya adalah letusan Gunung Tambora pada April 1815 yang dampaknya meluas hingga memengaruhi iklim dan kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia.

Bagi sejarah Bima, catatan tersebut memiliki arti penting karena menghadirkan kesaksian dari lingkungan masyarakat yang berada dekat dengan pusat peristiwa. Sejarah Tambora tidak hanya dapat dibaca melalui laporan peneliti dan penjelajah asing, tetapi juga melalui dokumentasi yang diwariskan masyarakat setempat.

Dewi menjelaskan, keistimewaan Bo' Sangaji Kai tidak berhenti pada kronik letusan Tambora. Naskah itu juga memuat hukum bandar Bima, hukum adat pertanahan, serta Undang-Undang Laut Malaka yang memperlihatkan hubungan Bima dengan perkembangan perdagangan dan tata kelola maritim pada masa lampau.

Catatan lainnya memperlihatkan kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat, termasuk tradisi Hanta Ua Pua yang masih dikenal hingga sekarang. Beragam informasi tersebut menjadikan Bo' Sangaji Kai sebagai sumber kajian lintas disiplin, mulai dari sejarah, politik, ekonomi, agama, pertanian, kehutanan, geografi, hingga perbintangan.

Baca juga: Menaklukkan Tambora

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Ady Ardiansah

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira