Mataram (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai 24 Oktober hingga 2 November 2026 akibat pasang maksimum air laut.
Kepala Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Tri Widiarto mengatakan wilayah yang berpotensi terdampak meliputi pesisir Pulau Lombok, Sumbawa hingga Bima.
"Ketinggian pasang maksimum mencapai dua meter," ujarnya di Mataram, Jumat.
Baca juga: BMKG peringatkan potensi banjir rob di wilayah pesisir NTB
Tri menuturkan wilayah yang berpotensi terdampak di Pulau Lombok meliputi Ampenan, Sekarbela, Gerung, Lembar, Pemenang, Jerowaru, dan Labuhan Lombok. Sedangkan Pulau Sumbawa yang potensi terkena dampak rob adalah wilayah Sumbawa, Rhee, dan Labuhan Badas.
Adapun daerah yang masuk dalam daftar potensi terdampak rob di Bima meliputi Palibelo, Belo, Woha, Bolo, Lambu, Langgudu, Soromandi, Sape, Rasanae Barat, Hu'u, dan Asakota.
"Waktu pasang di Lembar berlangsung pukul 21.00 hingga 02.00 WITA, sedangkan di Sape pada pukul 22.00 hingga 05.00 WITA," kata Tri.
Lebih lanjut, dia menyampaikan ketinggian gelombang laut di perairan Nusa Tenggara Barat berkisar antara 0,5 hingga empat meter dengan kondisi cuaca cerah berawan hingga hujan ringan.
Tri mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir, bantaran sungai serta daerah dataran rendah agar selalu waspada dan siaga mengantisipasi dampak pasang air laut maksimum yang dapat memicu banjir rob.
"Warga harus selalu waspada terhadap pasang maksimum yang berpotensi menjadi banjir rob," katanya.
Baca juga: BMKG imbau warga pesisir NTB waspadai potensi banjir rob
Baca juga: BMKG keluarkan peringatan banjir rob di pesisir NTB
Potensi banjir rob sepekan ke depan berkaitan dengan fase Bulan Purnama pada 26 Oktober dan fenomena perigee pada 29 Oktober 2026. Kedua fenomena astronomis tersebut meningkatkan tinggi pasang maksimum air laut.
Fase Purnama berlangsung sekitar pukul 17.53 WIB dengan posisi tertinggi pada 23.58 WIB. Pada fase tersebut posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus yang menghasilkan rentang pasang surut lebih besar.
Pada 29 Oktober 2026, posisi orbit Bulan relatif paling dekat dengan Bumi dengan jarak 364.407 kilometer. Fenomena perigee dapat memperkuat pengaruh gravitasi Bulan terhadap pasang surut air laut.
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Sugiharto Purnama
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira