Jakarta (ANTARA) - Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong hilirisasi timah berlanjut hingga menjadi tin chemical atau senyawa kimia timah yang bisa digunakan oleh industri manufaktur botol dan lain-lain.
“Kami ingin sebetulnya ada namanya tin chemical. Ini yang diperlukan untuk industri botol, untuk peralatan-peralatan lain yang ada unsur timahnya,” ucap Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Heldy Satrya Putera ketika ditemui di sela-sela acara “Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026” yang digelar di Jakarta, Kamis.
Melalui paparannya, Heldy menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang menempati posisi kedua sebagai pemilik cadangan timah terbesar di dunia, dengan porsi sekitar 16,3 persen.
Dengan cadangan timah yang melimpah, Heldy terus mendorong perkembangan hilirisasi timah sehingga tak terhenti di timah solder.
Baca juga: Timah catat peningkatan produksi bijih sebesar 55 persen
Menurut Heldy, pengembangan hilirisasi timah bisa menghadirkan industri elektronik di Indonesia yang tak kalah besar apabila dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
“Harapan akhirnya, industri elektronik di Indonesia bisa berkembang pesat dibandingkan negara-negara lain, karena bahan bakunya kita memiliki semua,” ujar Heldy.
Ia pun merujuk kepada keberhasilan hilirisasi nikel, di mana Indonesia sudah memiliki ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) berbasis nikel.
“Semua orang bahas nikel, hari ini pun nikel jadi contoh. Saya berharap timah pun bisa menjadi seperti itu,” ujar Heldy.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Putu Indah Savitri
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira