Pemahaman terhadap kondisi dan permasalahan ekonomi di lapangan merupakan modal penting dalam perumusan kebijakan namun tetap harus dilengkapi riset yang kuat
Surabaya, Jatim (ANTARA) -
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur mendorong pemanfaatan riset ekonomi sebagai dasar perumusan kebijakan pembangunan daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat, tetapi juga mampu memperluas pemerataan dan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Timur Ibrahim menyatakan kebijakan pembangunan perlu bertumpu pada kajian ilmiah yang objektif dan terukur agar mampu menjawab persoalan riil perekonomian sekaligus mengoptimalkan potensi daerah.
"Pemahaman terhadap kondisi dan permasalahan ekonomi di lapangan merupakan modal penting dalam perumusan kebijakan namun tetap harus dilengkapi riset yang kuat," kata Ibrahim di Surabaya, Jumat.
Ibrahim menuturkan saat ini pemerintah sedang fokus dalam penguatan produktivitas, peningkatan daya saing dan pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Untuk mewujudkan target-target tersebut, kata dia, pemerintah harus membuat kebijakan yang tidak hanya berbasis kondisi terkini melainkan juga dikombinasikan dengan kajian serta riset agar mampu menjawab tantangan sekaligus peluang.
Baca juga: BI siapkan enam inisiatif dukung eksyar jadi sumber pertumbuhan baru
Baca juga: BI: EJIF 2026 hasilkan kesepakatan investasi Rp2,4 triliun di Jatim
"Pemahaman perlu dilengkapi riset dan analisis ilmiah yang kuat, agar rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya relevan, tetapi juga objektif, terukur dan dapat diimplementasikan," ujarnya.
Sementara untuk menggabungkan pemahaman kondisi terkini dan riset dalam rangka membuat suatu kebijakan, Ibrahim menekankan langkah ini memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, lembaga riset serta dunia usaha.
Oleh sebab itu, BI Jatim berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, serta Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Surabaya untuk menerima 559 karya ilmiah pada 2026 yang dihimpun dalam The 13th East Java Economic (EJAVEC) Forum 2026.
Ratusan karya ilmiah tersebut mencakup enam isu strategis yakni daya saing industri dan hilirisasi, ketahanan pangan dan stabilitas harga, perdagangan dan konektivitas regional, pariwisata, pengembangan UMKM dan inklusi keuangan, serta kesiapan tenaga kerja dan kesejahteraan sosial.
Nantinya, kata Ibrahim, EJAVEC memperkuat fungsi pemberian rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah sehingga hasil riset tidak berhenti sebagai publikasi akademis.
Hasil riset akademis tersebut akan diterapkan untuk memperkuat daya saing, memperluas kesempatan ekonomi dan mendukung pertumbuhan Jawa Timur yang inklusif serta berkelanjutan.
Baca juga: BI sebut nilai ekonomi syariah semakin relevan secara global
Baca juga: BI: Jatim punya modal besar perkuat ekonomi syariah nasional
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Astrid Faidlatul Habibah
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira