Tokyo (ANTARA) - Programmer Indonesia, Raslene, memilih enam film Asia Tenggara bertema "Side by Side" dalam Program CROSSCUT ASIA+ di ajang Tokyo International Film Festival (TIFF) 2026, yang dilaksanakan dari 26 Oktober sampai 4 November di Tokyo, Jepang.

Raslene bekerja bersama programmer Jepang Masayuki Ueda dalam mengkurasi film-film untuk Program CROSSCUT ASIA+

Simak bincang-bincang ANTARA dengan Raslene di sela TIFF 2026 mengenai tugasnya dalam program tersebut.

Tanya (T): Apa tugas programmer dalam Program CROSSCUT ASIA+?

Jawab (J): Tugasnya, yang pasti, satu, menonton. Kita menonton sekian banyak film, lalu kita kurasi, kita utak-atik menjadi satu program. Termasuk kita pikirkan konteksnya, objektifnya mau ke mana, intensinya mau membicarakan apa, begitu-begitu sih.

T: Bagaimana pemilihan film untuk CROSSCUT ASIA+ dalam TIFF tahun ini?

J: Pertama-tama, sebenarnya waktu itu kita open call dulu. Jadi, aku mengajukan proposal ideku tentang Asia Tenggara, film-film Asia Tenggara, programnya seperti apa. Ada juga beberapa orang lainnya, programmer lainnya, yang mengajukan proposal.

Memang konsepnya adalah memasangkan satu programmer dari Asia Tenggara dan satu programmer dari Jepang. Kebetulan, co-programmer yang dari Jepang, proposalnya hampir mirip dengan aku. Jadi, ide dan sudut pandang kami dalam melihat Asia Tenggara cukup mirip. Akhirnya, mereka memilih kami berdua untuk dipasangkan.

Prosesnya lumayan bongkar-pasang karena film yang kami pilih berbeda dan titik awalnya juga berbeda, tetapi idenya sama.

Seru, seru, seru. Seru sih. Jadi, memang kami saling mengisi. Dia bukan orang Asia Tenggara, jadi aku memberikan banyak konteks tentang sejarah, kebiasaan, kultur, dan banyak hal lainnya.

Kami sempat melakukan research trip juga ke Singapura. Selama beberapa hari itu, intens banget. Setiap bertemu, kami langsung meeting, ngobrol, diskusi sampai berjam-jam. Sampai akhirnya pada akhir Juli atau Agustus, kami sudah memutuskan bahwa kami akan menggunakan program yang sekarang ada di katalog.

Tema "Side to Side" dipilih berdasarkan ide proposal dari Raslene dan Ueda Masayuki. Raslene memilih film "Four Seasons in Java" (Empat Musim Pertiwi), "Turang", dan "Behind the Flickering Light: The Archive."

T: Ada tiga film yang dipilih. Apa alasan pemilihannya?

J: Pertama, sebenarnya karena kami melihatnya sebagai Side by Side. Bukan hanya secara geografis Asia Tenggara bertetangga, tetapi juga ada pembicaraan tentang sejarah, waktu, dan poin-poin lain yang sebenarnya bisa direkam oleh sinema.

Karena itu, kami mengambil beberapa subtopik. Ada yang tentang arsip dalam bentuk dokumenter, yaitu film dokumenter "Behind the Flickering Light: The Archive." Kemudian ada "Turang", film klasik yang sempat hilang, ada cerita-cerita menarik dari setiap filmnya.

Kami juga melihat ide co-producing dalam jejaring Asia Tenggara sebagai sesuatu yang sangat menarik. Itu menjadi salah satu poin yang ingin kami soroti. Misalnya, film "Pertiwi", yang co-producer-nya berasal dari banyak negara.

Di saat yang sama, kami juga melihat cara kerjanya. Walaupun Mbak Dini (Kamila Andini) menulis dan melakukan riset sebagai sutradara, dia juga melibatkan Sekolah Pemikiran Perempuan untuk riset dan finalisasi naskahnya.

Menurutku, ide-ide dan semangat seperti itulah yang kami kumpulkan dalam tema Side by Side.​​​​​​​

T: Menurut kamu, apa yang paling menarik dari perkembangan film Indonesia belakangan ini? Apakah ada perubahan atau keberanian baru dari sineas kita?

J: Contoh yang paling menarik menurutku mungkin "Pertiwi" dan "Laut Bercerita." Dua film itu fresh banget dan cukup vokal dalam membicarakan isu-isu yang relevan.

Menurutku, orang-orang yang menontonnya harus bisa marah karena memang hal-hal yang bobrok secara sistemik itu mungkin tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sistemik mungkin.

T: Menurut kamu, apa yang masih perlu diperkuat agar film Indonesia tidak hanya dikenal di Asia, tetapi juga lebih luas lagi?

J: Kalau kita berbicara tentang festival, festival tidak bisa sepenuhnya menjadi tulang punggung untuk memperkenalkan film Indonesia.

Menurutku, kita harus mulai dari audiens lokal kita sendiri. Kalian menonton tidak kalau ada film Indonesia yang dirilis? Itu dulu. Dari sana, pasti bisa berkembang. Kalau kita sendiri sebagai orang Indonesia menonton film Indonesia, you know what you have in your country. Kamu bisa merekomendasikannya kepada teman-teman, itu juga berhasil.

Jadi, tidak harus selalu melalui label festival internasional yang sangat fancy, gala, dan macam-macam.

Tapi tentu saja, kalau mau berbicara tentang industri, pasar, dan hal-hal yang perputarannya berada di area kapital, festival adalah salah satu jalannya.

Baca juga: Kehangatan keluarga "Desember Jani" di tengah hujan Tokyo

Baca juga: Produser Yulia Evina jadi juri di Tokyo International Film Festival

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Source: ANTARA · Nanien Yuniar

At a glance

Topic
World
Country
🇮🇩 ID
Publisher language
ID
Added to Allnira