Di Manggarai, kami menemukan bahwa masih banyak naskah atau manuskrip yang belum teridentifikasi dan terdokumentasi dengan baik, bahkan sebagian belum terkonservasi secara layak.
Kupang, NTT (ANTARA) - Balai Bahasa Provinsi (BBP) Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) NTT memperkuat kolaborasi untuk melindungi kekayaan budaya daerah, termasuk bahasa, sastra, tradisi lisan, dan manuskrip yang belum terdokumentasi dengan baik.
Kepala BBP NTT Ralph Hery Budhiono di Kupang, Selasa, mengatakan kedua lembaga memiliki landasan tugas yang saling bersinggungan, karena sama-sama bergerak dalam bidang kebudayaan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
"Ini menjadi kesempatan baik untuk menyatukan visi dan misi terkait tugas dan fungsi kedua lembaga. Kami bisa saling bertukar informasi dan pengalaman untuk bersama-sama menggarap kekayaan kebudayaan, termasuk bahasa dan sastra yang sangat melimpah di NTT," katanya.
Menurut dia, kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara untuk mengoptimalkan pelaksanaan program di tengah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran, melalui pembagian peran serta kegiatan sesuai tugas dan fungsi masing-masing lembaga.
Ralph mencontohkan pengumpulan data ritual adat di Manggarai yang dilakukan Balai Bahasa. Dalam kegiatan tersebut, pihaknya mengidentifikasi unsur kebahasaan dan kesastraan, seperti mantra serta penggunaan bahasa dalam pelaksanaan ritual adat.
Sementara itu, BPK dapat mengkaji ritual tersebut dari perspektif yang lebih luas sebagai bagian dari produk kebudayaan masyarakat setempat.
"Di Manggarai, kami menemukan bahwa masih banyak naskah atau manuskrip yang belum teridentifikasi dan terdokumentasi dengan baik, bahkan sebagian belum terkonservasi secara layak. Kondisi seperti ini kemungkinan juga ditemukan di daerah lain di NTT," ujarnya.
Ralph mengatakan upaya pelindungan bahasa juga masih membutuhkan perhatian karena pemetaan bahasa di NTT telah berlangsung sejak sekitar 2007–2008 dan hingga kini belum sepenuhnya selesai.
Ia menambahkan data bahasa bersifat dinamis sehingga jumlah dan variasinya dapat berubah seiring perkembangan masyarakat. Karena itu, diperlukan kerja sama antarlembaga untuk memperluas pendataan dan pelindungan bahasa daerah.
Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan NTT Haris Budiharto mengatakan kolaborasi kedua lembaga dapat diarahkan pada pengkajian unsur-unsur objek pemajuan kebudayaan yang memiliki keterkaitan dengan bahasa dan sastra.
"Balai Bahasa memiliki keahlian yang lebih spesifik di bidang bahasa, sedangkan payung besarnya adalah kebudayaan. Karena itu, ada banyak persinggungan yang bisa kita kerjakan bersama di lapangan," katanya.
Ia mencontohkan pengkajian ritual adat, tarian, dan berbagai ekspresi budaya masyarakat yang tidak hanya mengandung nilai tradisi, tetapi juga unsur bahasa, baik melalui tuturan maupun ekspresi lainnya.
Menurut Haris, kedua lembaga perlu lebih sering melakukan diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) untuk mengidentifikasi potensi kerja sama dan menyusun kegiatan bersama.
Berdasarkan hasil identifikasi BPK NTT, terdapat sejumlah tradisi lisan di daerah itu, antara lain Aksara Lota di Ende, Tutur Adat Takanab (Natoni Takanab) masyarakat Atoin Meto di Timor Tengah Utara (TTU), Sastra Lisan Kafoa di Pulau Alor, Syair Adat pada Upacara Pernikahan di Desa Wairbleler, Kabupaten Sikka, serta Tuturan Su’i Uwi pada Upacara Reba di Kabupaten Ngada.
Haris berharap kolaborasi tersebut dapat mempercepat upaya pemajuan kebudayaan sekaligus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama melalui pengembangan potensi ekonomi dan peningkatan kesejahteraan berbasis kebudayaan.
Baca juga: Kemendikdasmen: Puncak BBS momen perkuat eksistensi Bahasa Indonesia
Baca juga: Kantor Bahasa Gorontalo dukung pelestarian kesastraan
Pewarta: Yoseph Boli Bataona
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Yoseph Boli Bataona
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira