Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Hariqo Wibawa Satria mengatakan keserakahan atau yang disebutnya sebagai "serakahnomics" merupakan salah satu lawan yang dihadapi Indonesia dalam kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Perlu kami tegaskan bahwasanya lawan kita bukan pengusaha, lawan kita bukan orang-orang kaya, lawan kita bukan Singapura, lawan kita bukan Malaysia. Lawan kita bukan kelompok A, kelompok B. Lawan kita bukan siapapun. Presiden Prabowo sudah menegaskan lawan kita siapa? Serakahnomics. Lawan kita adalah serakahnomics," kata Hariqo dalam acara dialog nasional refleksi 2 tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta, Kamis.
Dia menjelaskan keserakahan oleh perusahaan-perusahaan yang diduga ikut membakar hutan dan lahan itu sebagai lawan. Dia menegaskan Indonesia memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, yang terkena dampak asap karhutla.
Baca juga: BNPB: Dry ice bukan untuk padamkan api tapi mengurai asap karhutla
Dia menyoroti berbagai langkah penegakan hukum sudah dilakukan pemerintah, dengan sekira 230 orang dan sembilan korporasi sudah menjadi tersangka terkait kasus karhutla.
Hariqo mengatakan 98 korporasi juga sedang dalam proses penyidikan oleh Bareskrim Polri.
Proses pemadaman juga terus dilakukan di lokasi-lokasi karhutla yang tersebar di sejumlah provinsi di Indonesia.
Pemerintah, lanjutnya, sudah mengerahkan 69 ribu personel untuk melakukan pemadaman, didukung pesawat dan helikopter untuk water bombing, serta operasi modifikasi cuaca.
Baca juga: Pemerintah tegaskan perlindungan kesehatan bagi satgas karhutla
"Kami optimistis dengan seluruh sumber daya yang kami miliki. Kita mampu untuk memadamkan api di Kalimantan dan Sumatera," katanya.
Bukan hanya pemadaman, katanya, pemerintah juga menyiagakan rumah sakit dan puskesmas untuk mengawasi kesehatan masyarakat di wilayah terdampak, mengingat terdapat potensi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) karena paparan asap.
Pewarta: Prisca Triferna Violleta/Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Prisca Triferna Violleta/Bagus Ahmad Rizaldi
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira