Jakarta (ANTARA) - Kolesterol tinggi kerap tidak menimbulkan gejala sehingga seseorang bisa saja tidak menyadari kondisinya hingga menjalani pemeriksaan darah. Padahal, kadar kolesterol yang tidak terkontrol, terutama kolesterol LDL, dapat meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah yang berujung pada stroke.
Stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu, baik akibat penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat menyebabkan sel-sel otak kekurangan oksigen dan mengalami kerusakan. Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko kecacatan hingga kematian.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 11,9 juta kasus stroke baru terjadi di seluruh dunia pada 2021. Dalam lembar fakta yang diperbarui pada Desember 2025, WHO juga memasukkan kolesterol LDL tinggi sebagai salah satu faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi.
Bagaimana kolesterol tinggi meningkatkan risiko stroke?
Kolesterol merupakan zat lemak yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel dan menghasilkan hormon tertentu. Namun, kadar yang berlebihan, khususnya kolesterol LDL, dapat memicu penumpukan plak pada dinding pembuluh darah.
LDL atau low-density lipoprotein sering disebut kolesterol jahat karena dapat membawa kolesterol ke dinding arteri. Seiring waktu, penumpukan plak dapat membuat pembuluh darah menyempit dan mengurangi kelancaran aliran darah.
Jika plak terbentuk pada pembuluh darah yang memasok darah ke otak, risiko stroke iskemik dapat meningkat. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah tersumbat oleh gumpalan darah atau material lain sehingga aliran darah ke bagian otak terhenti.
Baca juga: Bolehkah obat herbal kolesterol digabung dengan obat dokter?
Baca juga: 8 buah untuk membantu menurunkan kolesterol secara alami
Plak yang pecah juga dapat memicu pembentukan gumpalan darah. Apabila gumpalan tersebut menyumbat pembuluh darah otak, suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak akan terganggu.
Meski demikian, kolesterol tinggi bukan satu-satunya penyebab stroke. Risiko seseorang juga dipengaruhi faktor lain, seperti tekanan darah tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, serta riwayat penyakit kardiovaskular.
Apa perbedaan kolesterol LDL dan HDL?
Pemeriksaan kolesterol umumnya mencakup beberapa komponen yang membantu menggambarkan kondisi lemak dalam darah. Dua di antaranya adalah LDL dan HDL.
1. Kolesterol LDL
LDL berperan dalam membawa kolesterol ke berbagai bagian tubuh. Namun, kadar LDL yang tinggi dapat mendorong penumpukan plak di dinding arteri. Karena itu, pengendalian LDL menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke.
2. Kolesterol HDL
HDL atau high-density lipoprotein dikenal sebagai kolesterol baik. HDL membantu membawa kelebihan kolesterol dari jaringan dan pembuluh darah kembali ke hati untuk diproses lebih lanjut.
Kadar HDL yang memadai berkaitan dengan profil risiko kardiovaskular yang lebih baik. Meski begitu, kadar HDL yang tinggi tidak otomatis menghilangkan risiko akibat LDL tinggi atau faktor risiko lainnya.
3. Trigliserida
Trigliserida merupakan jenis lemak lain yang beredar dalam darah dan digunakan tubuh sebagai sumber energi. Kadar trigliserida yang tinggi, terutama jika disertai LDL tinggi atau HDL rendah, dapat berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kardiovaskular.
Karena itu, pemeriksaan profil lipid sebaiknya tidak hanya berfokus pada kolesterol total. Dokter dapat menilai LDL, HDL, trigliserida, serta faktor risiko lain untuk menentukan langkah yang sesuai.
Baca juga: Kolesterol tinggi bisa tanpa gejala, dokter anjurkan cek rutin
Apakah kolesterol tinggi selalu menyebabkan stroke?
Kolesterol tinggi tidak berarti seseorang pasti mengalami stroke. Namun, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko, terutama jika berlangsung lama dan disertai faktor risiko lain.
Seseorang dengan LDL tinggi yang juga memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, atau kebiasaan merokok dapat menghadapi risiko kardiovaskular yang lebih besar. Kombinasi faktor tersebut dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyumbatan.
Selain itu, kadar kolesterol tinggi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang mudah dikenali. Tidak adanya gejala bukan berarti kadar kolesterol berada dalam batas yang sehat.
Pemeriksaan darah menjadi cara untuk mengetahui kadar kolesterol secara lebih akurat. Waktu pemeriksaan dapat disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, riwayat keluarga, dan faktor risiko masing-masing orang.
Cara mengendalikan kolesterol untuk mengurangi risiko stroke
Mengendalikan kolesterol merupakan salah satu langkah untuk menjaga kesehatan pembuluh darah. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup dan, jika diperlukan, pengobatan berdasarkan penilaian tenaga medis.
Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan:
1. Mengatur pola makan
Perbanyak konsumsi sayuran, buah, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber protein yang lebih sehat, termasuk ikan. Batasi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, serta perhatikan asupan garam dan gula tambahan untuk membantu menjaga kesehatan kardiovaskular secara keseluruhan.
2. Melakukan aktivitas fisik secara teratur
Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah serta mendukung pengendalian berat badan. WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas berat selama 75–150 menit per minggu, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatannya.
Baca juga: Empat penyebab orang bertubuh kurus bisa alami kolesterol tinggi
3. Menghindari rokok
Merokok dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Menghindari rokok serta paparan asapnya merupakan bagian penting dari upaya menurunkan risiko stroke.
4. Memeriksa kadar kolesterol secara berkala
Pemeriksaan profil lipid membantu mendeteksi kolesterol tinggi meskipun belum muncul gejala. Frekuensi pemeriksaan perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan rekomendasi tenaga medis, terutama bagi orang yang memiliki diabetes, hipertensi, atau riwayat penyakit jantung dan stroke.
5. Mengikuti pengobatan jika diperlukan
Sebagian orang memerlukan obat penurun kolesterol, seperti statin, untuk membantu menurunkan LDL dan mengurangi risiko kejadian kardiovaskular. Keputusan penggunaan obat ditentukan berdasarkan kadar kolesterol, riwayat kesehatan, serta risiko keseluruhan. Pasien tidak disarankan memulai, mengubah dosis, atau menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Kenali gejala stroke dan segera cari pertolongan
Selain mengendalikan kolesterol, masyarakat perlu mengenali gejala stroke agar pertolongan medis dapat diberikan secepat mungkin.
Gejala stroke dapat muncul mendadak, seperti wajah menurun pada satu sisi, kelemahan atau mati rasa pada lengan, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, kehilangan keseimbangan, atau sakit kepala hebat yang tidak biasa.
Jika gejala tersebut muncul, segera hubungi layanan kegawatdaruratan atau bawa pasien ke rumah sakit. Jangan menunggu gejala membaik dengan sendirinya karena stroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera.
Kolesterol tinggi memang tidak selalu menimbulkan keluhan, tetapi dampaknya terhadap pembuluh darah dapat berkembang dalam jangka panjang. Mengetahui kadar kolesterol, mengendalikan faktor risiko, dan menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan otak dan mengurangi risiko stroke.
Baca juga: Dokter ingatkan riwayat keluarga tingkatkan risiko jantung&hipertensi
Baca juga: Ahli Gizi ungkap minuman pagi terbaik bagi penderita kolesterol tinggi
Baca juga: Ahli jelaskan perbedaan Trigliserida dan LDL tinggi
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · M. Hilal Eka Saputra Harahap
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira