Setiap tahun itu rata-rata 22 juta kiloliter. Dari konsumsi kita yang 38 juta kiloliter itu, 22 juta kiloliter masih impor
Purbalingga (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unggul Priyanto menilai pemanfaatan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bensin sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Anggota DEN dari unsur pemangku kepentingan itu di Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto di Blater, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa, mengatakan konsumsi bensin nasional masih bergantung pada pasokan dari luar negeri sehingga diperlukan diversifikasi energi melalui pemanfaatan bahan bakar alternatif berbasis nonfosil.
"Setiap tahun itu rata-rata 22 juta kiloliter. Dari konsumsi kita yang 38 juta kiloliter itu, 22 juta kiloliter masih impor," katanya setelah pembukaan Sosialisasi Kebijakan Energi Nasional yang digelar DEN bekerja sama dengan Unsoed di Aula Fakultas Teknik Unsoed.
Menurut dia, pengembangan bahan bakar dengan campuran etanol 20 persen atau E20 diharapkan dapat dilanjutkan menuju E50 pada masa mendatang untuk menekan ketergantungan terhadap impor bensin.
Ia mengatakan pemanfaatan etanol tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi emisi karbon dari penggunaan bahan bakar fosil, juga menjadi bagian dari strategi menjaga ketersediaan energi di dalam negeri.
Baca juga: Program E50 diperkirakan butuh 320 pabrik etanol
Baca juga: Menko Bahlil bidik lahan tidur Karawang jadi ladang etanol
Ia mengakui masih terdapat kekhawatiran masyarakat mengenai dampak etanol terhadap mesin kendaraan.
Oleh karena itu, sosialisasi diperlukan agar masyarakat memperoleh informasi yang benar mengenai penggunaan bahan bakar alternatif tersebut.
“Penggunaan etanol hingga kadar 20 persen dinilai masih aman berdasarkan pengujian yang telah dilakukan,” katanya.
Meskipun demikian, dia mengatakan penerapan kebijakan bahan bakar harus tetap memperhatikan hasil pengujian dan kesesuaian dengan kendaraan yang digunakan.
Selain etanol, kata dia, pemerintah juga mengembangkan biodiesel B50 yang diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor solar.
"Intinya, diversifikasi energi ini bukan hanya untuk masalah lingkungan, tetapi juga untuk ketahanan energi," katanya.
Unggul mengatakan pemahaman mengenai kebijakan energi nasional perlu diperluas kepada mahasiswa, akademisi, dan masyarakat agar penerapan energi alternatif dapat memperoleh dukungan publik.
Baca juga: Bahlil tingkatkan keterlibatan rakyat lewat sumur rakyat hingga etanol
Baca juga: Pakar nilai kebijakan E10 bisa diterapkan pada 2027
Pewarta: Sumarwoto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Sumarwoto
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira