Jakarta (ANTARA) - Allianz Global Investors (AllianzGI) Indonesia menilai obligasi domestik masih menarik menjelang akhir 2026, seiring penyesuaian harga yang meningkatkan daya tarik imbal hasil dan valuasi tetapi investor perlu menerapkan strategi investasi secara selektif di tengah volatilitas pasar.
Head of Fixed Income AllianzGI Indonesia Fitri Lindawati mengatakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun berada di kisaran 7,60 persen per Oktober 2026, sedangkan imbal hasil US Treasury tenor yang sama mendekati 5 persen.
"Penyesuaian imbal hasil obligasi yang terjadi sebelumnya telah meningkatkan daya tarik instrumen pendapatan tetap Indonesia, baik dari sisi potensi pendapatan maupun valuasi. Meski demikian, peluang investasi tetap perlu dipertimbangkan secara selektif," ujar Fitri dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Menurut Fitri, kondisi tersebut membuat instrumen pendapatan tetap domestik semakin menarik dari sisi potensi pendapatan.
Meski demikian, tingginya imbal hasil obligasi global dan dinamika penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) masih berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.
AllianzGI memperkirakan pasar obligasi domestik masih dipengaruhi dinamika global, terutama tingginya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Dari sisi domestik, sekitar Rp302 triliun dari target penerbitan SBN tahun anggaran 2026 masih perlu dipenuhi pada kuartal IV.
Kebutuhan penerbitan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan obligasi dan volatilitas imbal hasil di pasar domestik. Karena itu, AllianzGI mempertahankan pandangan konstruktif terhadap pasar obligasi, tetapi tidak mengambil posisi durasi panjang secara agresif.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, AllianzGI menilai strategi investasi yang memprioritaskan pendapatan kupon atau carry-first dapat menjadi pendekatan yang relevan. Strategi ini berfokus pada pendapatan yang diperoleh selama kepemilikan obligasi, dengan tetap mempertimbangkan risiko perubahan harga di pasar.
Selain mengutamakan pendapatan kupon, investor disarankan mengelola durasi portofolio secara selektif dan melakukan diversifikasi. Pemeliharaan likuiditas juga dinilai penting agar investor memiliki fleksibilitas dalam merespons perubahan kondisi pasar.
"Investor juga perlu menjaga likuiditas agar memiliki fleksibilitas dalam menghadapi perubahan kondisi pasar, serta menyesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing," kata Fitri.
Dari sisi fundamental domestik, AllianzGI melihat sejumlah indikator ekonomi sebagai faktor penyeimbang tekanan eksternal.
Inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28 persen secara tahunan, dengan inflasi inti 2,84 persen.
Sementara itu, cadangan devisa Indonesia mencapai 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026, di tengah fokus Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah.
Pandangan tersebut sejalan dengan Fixed Income Forward: October 2026 dari AllianzGI yang menilai tingkat imbal hasil obligasi saat ini semakin menarik bagi investor jangka panjang. Imbal hasil awal yang lebih tinggi berpotensi memberikan pendapatan lebih besar sekaligus menjadi bantalan terhadap risiko kerugian akibat perubahan harga pasar.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berpotensi memperpanjang volatilitas harga minyak dan meningkatkan risiko stagflasi, serta perkembangan pasar obligasi pemerintah di zona euro.
Baca juga: Allianz dan Maybank luncurkan investasi global berbasis dolar AS
Baca juga: Risiko geologi jadi penilaian utama premi asuransi bagi UMKM
Baca juga: AllianzGI hadirkan produk reksa dana khusus klien Standard Chartered
Pewarta: Fitra Ashari
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Fitra Ashari
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira