Jakarta (ANTARA) - Dokter anak subspesialis respirologi dr. Khairiyadi, Sp.A, Subsp.Respi.(K), M.Kes menjelaskan alasan anak-anak tidak boleh bermain di bawah air hujan khususnya hujan pertama yang jatuh di kawasan terdampak oleh kebakaran hutan lahan (karhutla).
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) itu menyebut guyuran hujan pertama di kawasan terdampak karhutla memberi risiko paparan zat kimia beracun.
“Saya tidak menyarankan. Dari beberapa teori dan literatur yang ada tidak disarankan itu. Setelah beberapa kali hujan, ada yang mengatakan tiga kali hujan yang deras baru boleh dilakukan,” kata dokter Khairiyadi dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Selasa.
Dokter Khariyadi memahami mungkin banyak anak-anak yang terdampak karhutla gembira menyambut hujan deras karena hampir lebih dari tiga bulan sangat jarang terjadi hujan karena fenomena Super El Nino.
Baca juga: IDAI: Anak lebih rentan terdampak asap karhutla
Meski hujan seolah mengugurkan asap akibat karhutla secara kasat mata, namun bahaya dari senyawa gas sisa kebakaran lahan tetap mengintai karena gas tersebut bereaksi langsung dengan air hujan.
Maka dari itu, tidak disarankan bagi orang tua memperbolehkan anak-anaknya untuk bermain dengan hujan khususnya di kawasan yang masih baru terdampak karhutla.
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin tersebut mengatakan beberapa gas beracun yang kerap ditemukan dan memberikan paparan akibat karhutla di antaranya ialah Nitrogen Oksida (NOx) dan Ozon (O₃).
Kedua senyawa tersebut dalam ilmu respirologi terbukti dapat membuat masalah pernapasan pada orang yang terpapar dalam jumlah berlebihan terutama pada anak-anak yang termasuk kelompok rentan.
Untuk nitrogen oksida, ketika bercampur dengan air dapat menghasilkan berbagai jenis gas nitrogen seperti nitrogen monoksida dan nitrogen dioksida.
Ketika terhirup, anak-anak berpotensi mengalami iritasi saluran napas yang parah mulai dari batuk, nyeri tenggorokan, hingga mungkin menciptakan sesak napas akut.
Baca juga: IDAI bagikan kiat cegah dampak buruk asap karhutla pada anak
Adapun ozon yang terbentuk akibat karhutla juga sangat berbahaya, ozon ini jelas berbeda dengan lapisan ozon yang melindungi bumi dari radiasi ultraviolet Matahari.
Ozon itu hasil pembakaran tidak sempurna di kondisi karhutla tercipta dari hasil pembakaran pohon, daun, dan lahan gambut.
Saat anak-anak bermain hujan di tengah kualitas udara yang belum stabil, mereka rentan menghirup ozon tanah yang sifatnya sangat iritatif terhadap saluran pernapasan.
Selain masalah gas dan senyawa kimia yang berbahaya, partikel debu halus atau PM2.5 yang selama ini tercipta akibat karhutla juga belum sepenuhnya benar-benar hilang hanya dalam satu kali masa hujan deras.
Dibutuhkan setidaknya beberapa pekan dengan hujan intensitas deras agar kondisi PM2.5 yang berbahaya bisa kembali ke kondisi normal.
"Partikel PM 2.5 itu memang susah untuk turun ke bawah ya. Mungkin perlu beberapa minggu untuk bisa turun ke bawah (indikatornya)," kata dokter Khariyadi.
Baca juga: IDAI bagikan langkah pencegahan dampak karhutla pada anak
Baca juga: IDAI tekankan orang tua kenali gangguan jantung bawaan pada anak
Baca juga: IDAI ingatkan risiko infeksi Salmonella jika bayi diberi telur mentah
Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Livia Kristianti
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira