Jakarta (ANTARA) - Pasangan atlet para tenis meja Indonesia Adyos Astan/Yayang Gunaya dipastikan meraih medali perunggu usai kalah 0-3 (7-11, 9-11, 8-11) melawan Jepang dalam semifinal ganda putra kelas MD8 Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026, Jumat.
Berdasarkan statistik dalam laman penyelenggara, Indonesia meraih perunggu bersama dengan Thailand yang juga dikalahkan China dengan skor 1-3 (10-12, 11-8, 9-11, 9-11) pada laga semifinal lainnya di Sky Hall Toyota, Jepang. Kedua negara berhak menerima medali tersebut karena tidak adanya pertandingan perebutan tempat ketiga.
Saat laga semifinal, Adyos/Yayang bersaing ketat melawan Yuichiro Kitagawa/Kazuki Shichino dengan perolehan poin kedua pasangan saling susul menyusul pada awal gim.
Namun, usaha mereka selalu gagal saat pertandingan memasuki momen krusial atau di penghujung permainan pada setiap gim. Ketenangan membuat lawan memenangi pertandingan.
Adyos/Yayang memulai perjuangan dari Grup A dengan mengalahkan pasangan China Zhengyang Peng/Panfeng Feng 3-2 (5-11, 11-8, 6-11, 11-7, 12-10) pada pertandingan pertama, Rabu (21/10).
Baca juga: Fredy Setiawan raih perak para bulu tangkis, akui kurang puas
Dalam laga kedua atau terakhir di grup melawan Kuwait, pasangan tersebut kembali menorehkan kemenangan dengan skor 3-0 (11-4, 11-5, 11-3). Kuwait yang diperkuat Mohammad Ben Jabal/Ahmad Alotaibi dibuat tak berdaya oleh atlet Indonesia.
Pasangan andalan Merah Putih itu mampu mendominasi permainan sehingga menang langsung tiga gim, sekaligus mengamankan tiket ke semifinal.
Namun, perjuangan Adyos Astan yang berumur 58 tahun dan Yayang Gunaya yang berusia 30 tahun, harus kandas di tangan pasangan Jepang, sehingga hanya berhak membawa pulang medali perunggu.
Sementara itu, emas berhasil diraih oleh wakil China, Zhengyang Peng/Panfeng Feng, seusai menundukkan atlet Jepang Yuichiro Kitagawa/Kazuki Shichino dalam pertandingan final.
Nomor ganda putra kelas MD8 adalah nomor pertandingan tenis meja bagi dua atlet putra penyandang disabilitas fisik yang bermain sebagai pasangan dengan klasifikasi standing (bermain sambil berdiri).
Berdasarkan regulasi penyelenggara, kelas 8 termasuk kategori atlet yang bermain sambil berdiri (kelas 6-10). Atlet kelas 8 umumnya memiliki keterbatasan fisik pada tingkat sedang, misalnya gangguan fungsi pada salah satu anggota tubuh atau keterbatasan gerak tertentu.
Baca juga: Boccia beregu campuran BC1/BC2 Indonesia sapu bersih Grup A
Baca juga: Kholidin/Setiawan raih perunggu para panahan Asian Para Games 2026
Pewarta: Donny Aditra
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Source: ANTARA · Donny Aditra
At a glance
- Topic
- World
- Country
- 🇮🇩 ID
- Publisher language
- ID
- Added to Allnira